Langsung ke konten utama

Postingan

LAGI-LAGI BATIK LAGI!

“Jarkom ACTION! Seluruh panitia diharapkan hadir pada pukul 06.30 besok pagi! Dresscode: Batik ! Be on time! Semangat!!(^^,)9” Haaah, lagi-lagi batik lagi! Ini nih SMS dari Koordinator Pelaksana salah satu acara di kampus. Sebagai salah satu panitia, saya diwajibkan mengikuti aturan yang ada. Datang pagi-pagi ke kampus? Oke, ga masalaaaah.. Dresscode baju batik ? Nah ini nih, emang semua orang suka pakai batik ? Liat dong di lemari saya, cuma ada satu baju batik , itu pun baju batik  Kakak yang ternyata ga sesuai ukuran badannya terus diwariskan ke saya dan itu juaaarrrrang saya pakai. Pokoknya males banget pakai batik , keliatan terlalu formal, keliatan tua, keliatan jadul.. Gitu wes pokoknyaaa.. Haaah... Batik , batik , batik lagi, lagi-lagi batik , batiiikkk aja terus.. *** Kalau diingat-ingat, kejadian tiga tahun lalu itu bikin saya geli sendiri. Gara-gara ga suka pakai batik , saya pun melanggar aturan dari Korlak dengan memakai baju kembang-kembang, bukan batik . Pas...

NUTRISI DAN STIMULASI UNTUK SANG BUAH HATI

“Xela, ayo tepuk tangaann!”, seru saya sambil mencontohkan gerakan tepuk tangan kepada keponakan saya itu. “Ayo ayooo!” Perlahan Xela mulai mengikuti gerakan tangan saya, dia menggerak-gerakkan kedua tangannya, sekali dua kali ia gagal, dan di gerakan ketiga, terdengar suara tepukan kedua tangannya yang beradu.. Prok! Si Kecil Xela :) Mengamati tumbuh kembang anak sejak ia bayi memang sesuatu yang sangat luar biasa. Sebagai seorang wanita, naluri keibuan saya mulai terpanggil sejak beberapa waktu lalu. Melihat Kakak saya menikah, lalu hamil. Betapa luar biasanya membayangkan sesosok manusia mungil yang perlahan berkembang di dalam rahim Kakak saya, calon seorang bunda. Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya beberapa bulan lalu, Mama saya mengabarkan kelahiran cucu pertamanya, anak pertama Kakak saya, keponakan pertama saya. Saya yang saat itu masih jauh merantau ke ibukota, segera bergegas pulang beberapa hari setelahnya. Pertama melihat Xela, keponakan saya itu, betapa ...

Heh Penguntit!

Kali ini saya pengen cerita tentang penguntit nih. Teman-teman pernah ga diikuti penguntit? Saya pernah lho, ya ga ekstrem-ekstrem amat sih.. Mulai dari penguntit di telepon. Duluuu banget, pas saya masih kelas 1 SMP, saya pindah sekolah. Dan pada saat perkenalan di kelas baru, guru yang mendampingi saya saat itu memerintahkan saya untuk menuliskan nomor telepon di papan. Dengan terpaksa dan berat hati pun saya menuliskan angka-angka itu. Singkat cerita, saya sudah menjadi “anak baru” nih. Anak baru yang diem gitu, padahal aslinya cerewet banget. Lalu, pada suatu pagi, telepon  rumah saya berdering. Mencari Fina, begitulah kata suara di ujung telepon sana.  Berkali-kali ia menelpon tanpa memberitahukan siapa identitasnya. Ia hanya berkata bahwa ia adalah teman saya yang mendapatkan nomor telepon saya saat perkenalan di depan kelas beberapa waktu lalu. Berkali-kali ia menelpon, ga tau deh apa aja yang ia bicarakan saat itu, saya ga inget. Yang saya inget, ia berhenti menel...

MEET A GHOST!

Pernah ga ketemu sama hantu? Atau mengalami kejadian semacamnya lah.. Saya pernah.. Jadi begini ceritanya, minggu lalu, saya menginap di rumah Kakak saya di Jember. Rumah kontrakan yang cukup mungil sebenarnya. Sehari-hari, Kakak saya hanya tinggal bertiga di rumah itu, Kakak, Mama, dan Xela anak Kakak saya. Sedangkan suami Kakak saya, bertugas di Surabaya dan hanya pulang pada saat weekend tiba. Malam itu, seperti biasanya Kakak saya dan Xela anaknya tidur di kamar depan, sedangkan saya dan Mama yang suka menonton televisi hingga larut, memilih tidur di kasur di depan televisi. Posisi tidur saya dan Mama saling berseberangan, kepala saya bersebelahan dengan kaki Mama, begitu pula sebaliknya. Arah pandangan saya menghadap ke ruang tamu (yang gelap pada saat malam), dan Mama menghadap ke ruang makan yang terang benderang. Singkat cerita, saya dan Mama sudah terlelap dengan posisi sedemikian rupa. Lalu, sekitar pukul 1 malam, angin bertiup sangat amat kencang hingga saya terb...

THE REBORN..

Akhirnya, setelah sekian lama, saya memutuskan untuk sedikit membawa perubahan dalam blog ini. Ga ada lagi nama saya tertera di alamat dan nama blog.. Ga ada lagi foto saya yang terpampang dengan begitu pedenya,hehe.. Cabangranting, demikian nama yang saya ambil. Kenapa nama itu? Sebenarnya sih saya ingin memakai nama lemari pikiran (honestly ini terinspirasi dari salah satu episode Spongebob yang ada semacam lemari arsip gitu di otaknya,hehe) , tapi ternyata nama itu sudah digunakan oleh blog lain. Dan saat saya mencoba mencari nama yang lain, pikiran saya pun bercabang-cabang.. Terus kepikiran deh, ya udah namanya cabangranting aja.. Kan blog ini sering jadi curahan pikiran saya yang kadang tiba-tiba bercabang gitu.. Hehe.. So, this is it! My "reborn" blog: cabangranting! :D

TIRTA UNTUK DUNIA

              “Pemirsa, saat ini saya berada di depan Gedung Konferensi PBB tempat berlangsungnya Konferensi Dunia mengenai konflik air yang telah terjadi dua tahun terakhir. PBB mengeluarkan status Darurat Air Dunia seiring dengan semakin meluasnya wilayah yang mengalami kelangkaan air bersih, yang diikuti dengan penyebaran berbagai penyakit, matinya hewan dan tumbuhan di berbagai belahan dunia, dan juga konflik antar negara. Hingga saat ini, PBB menyatakan akibat kelangkaan air bersih sudah terdapat 38 juta manusia di seluruh dunia yang tewas, baik karena dehidrasi akut, tidak adanya bahan pangan akibat kekeringan, terinfeksi penyakit akibat mengkonsumsi air yang tercemar, maupun tewas menjadi korban dalam konflik perebutan air . Karena itu, perwakilan seluruh negara di dunia saat ini sedang berkumpul, dan menyusun rencana pengambilalihan pengelolaan air  dunia. Berdasarkan informasi terakhir yang kami dapatkan, sel...

HEMAT KERTAS, SELAMATKAN HUTAN!

“Belum beres Fin buku-bukunya? Punya aku dong udah beres, ada tiga kardus! Sebagian besar kertas bekas yang udah ga kepake, kayaknya mau aku jual ke tukang loak yang biasa lewat aja deh!”, kata teman saya waktu itu. Berakhirnya masa kuliah, berakhir pula masa kost kami di sebuah rumah di pinggiran Jakarta. Saya dan teman-teman yang senasib pun harus segera mengemas barang kami, termasuk barang-barang yang bertengger di rak buku kami. Tiga tahun kuliah, cukup banyak buku dan kertas yang harus saya kemas. Sebagian yang masih bisa digunakan, saya serahkan ke adik kelas. Sebagian lagi, saya simpan. Sisanya? Tertumpuk tak jelas. Cukup banyak jumlahnya. Dan akhirnya, seperti teman kost saya, saya memutuskan untuk menjualnya ke tukang loak.. *** Entah apa yang terjadi dengan kertas saya di tangan tukang loak tadi. Sepertinya dia akan menyerahkannya ke pengepul. Lalu pengepul akan menjualnya ke pedagang gorengan. Lalu kertas saya akan dilipat-lipat menjadi bungkus gorengan. Lalu ada...